Selasa, 22 April 2014

Hukuman untuk Penipu

karikatur opini 23 april 2014
Harian Rakyat Sultra Kendari





OLEH:

ALAIDDIN KOTTO
Guru Besar Ilmu Politik UIN Suska Riau


Di suatu pagi Kamis, seorang ibu tukang urut memperhatikan seorang calon pasien laki-laki bersama istrinya turun dari mobil.

Begitu melihat banyak orang yang sedang antre untuk berobat, si laki-laki itu membuat ”sandiwara” bersama istrinya. Ia lipat lengan baju dan kaki celananya ke atas, lalu dipapah oleh istrinya sambil mengerang-erang seperti orang yang sedang sakit parah.

Sambil tetap mengerang, si laki-laki itu langsung menuju ruang praktik si tukang urut. Ia memohon dengan menghiba-hiba agar diberi prioritas untuk langsung diterapi, mendahului orang-orang lain yang sudah antre sejak pagi.

Bahkan, tidak hanya sekadar telah antre, seorang anak muda yang terkena stroke sedang menunggu giliran untuk segera diterapi.

Ia duduk pas di depan pintu masuk bersama istrinya yang sedang hamil tua. Ia telah menunggu gilirannya sejak pagi, namun ketika gilirannya tiba, si bapak yang dipapah istrinya itu langsung masuk tanpa minta izin kepada si pemuda.

Begitu pandainya dia bersandiwara, si pemuda pun ikut kasihan dan merelakan gilirannya diambil oleh si bapak, sementara si ibu, tukang urut, melihat saja sandiwara itu dengan perasaan prihatin, pura-pura tidak tahu apa yang dilakukan si bapak itu.

Ketika pihak yang disebut terakhir telah berada di depannya, ibu tukang urut menanyakan apa penyakit yang dirasakan oleh si pasien yang sedang membuat tipuan tersebut.

Si bapak itu mengatakan seluruh badannya sakit dan mohon agar segera diurut atau diterapi.

”Pak!” kata si tukang urut. “Bapak melihat anak muda yang terkena stroke dan duduk di depan pintu masuk itu ?” Si bapak itu menjawab, “Ya.

” Bapak tidak kasihan melihatnya yang sudah antre sejak pagi, lalu bapak langgar saja tanpa minta izin kepadanya?,” lanjut si ibu yang mengetahui bahwa si bapak itu bersandiwara dan penyakitnya tidaklah berat seperti yang ia sebut.

”Aku tidak peduli, dia dia, aku-aku. Kalau aku tunggu orang sebanyak itu, bisa aku menunggu sampai malam lagi,“ jawabnya ketus.

“Bapak tidak takut bila Allah pindahkan penyakitnya kepada Bapak karena Bapak telah mengambil haknya?,” tanya si ibu lagi. “Ah, tidak ada itu, mana mungkin, sakitnya sakitnya, sakit aku ya sakit aku pula,” jawabnya lagi tanpa rasa bersalah. “Kalau begitu, ya lah,” kata si ibu sambil mulai mengurut.

Setelah selesai berurut, si bapak itu pergi, dan tibalah giliran si anak muda yang dilanggarnya tadi. Istri si anak muda itu berkata, “Tolonglah kami Bu, saya sedang hamil tua, suami sakit stroke, kami tidak punya penghasilan lain untuk menyongsong kelahiran anak kami.

”Si ibu bertanya kepada si anak muda itu, “kenapa kamu mau memberikan giliranmu kepada bapak tadi?” Si pemuda itu menjawab, “Kasihan melihat dia Bu, kelihatannya sakitnya parah, sementara saya tidaklah separah dia.” Si ibu bertanya lagi, “Apa kamu ikhlas memberikan giliranmu tadi kepada bapak itu?” Si anak muda menjawab, “ikhlas Bu.”

Selesai berurut, si anak muda itu pergi bersama istrinya setelah mengucapkan terimakasih, sementara si ibu melihat dengan perasaan yang campur aduk antara kesal kepada si bapak tadi dan kasihan serta kagum kepada si anak muda yang berhati mulia itu.

Jam pun terus berlalu, dan sampailah sore menjelang magrib. Sebuah mobil pick up hitam tiba di halaman rumah si ibu membawa puluhan batang kayu broti.

Karena masih mengobat pasiennya, sopir mobil itu menemui suami si ibu dan mengatakan bahwa kayu itu adalah untuk ibu Ani (bukan nama sebenarnya). Karena tidak merasa pernah memesan kayu, sang suami bertanya kepada istrinya apa ia pernah memesan kayu. Istrinya menjawab, tidak pernah.

Si suami berkata kepada si sopir, “Saudara salah alamat, karena di sini ada ibu lain yang senama dengan istri saya.” Si sopir bersikeras bahwa kayu itu memang untuk ibu ani si tukang urut.

Mendengar percakapan suaminya, si ibu tukang urut keluar dari kamar praktiknya dan menemui sopir itu.

Betapa kagetnya dia, karena sopir itu adalah anak muda terkena stroke yang diurutnya tadi pagi.

“Ya Allah, bukankah kamu yang berurut tadi pagi?”, tanya si ibu. “Ya bu. Alhamdulillah saya sudah sehat dan bisa menyetir mobil. Ini adalah tanda terimakasih kami kepada ibu. Kami lihat ibu sedang membangun rumah. Mudah-mudahan kayu ini ada gunanya untuk ibu,” katanya sambil pamit, pulang ke rumahnya. 

Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Selasa, ketika sedang melayani pasien, si ibu kedatangan tamu lagi yang mendadak masuk ke ruangannya.

Setelah diperhatikan, ternyata yang datang itu adalah istri si bapak yang telah bersandiwara dan berobat Kamis lalu. Dengan menghiba, sang istri meminta ibu tukang urut bersedia datang ke rumah sakit karena suaminya sedang koma di ruang icu karena stroke. Darah si ibu tukang urut berdegup kencang.

“Kok terbukti apa yang pernah saya ucapkan dulu, “hati ibu itu berkata. “Ya Allah, itukah hukuman Engkau kepada penipu yang rela mengambil hak orang lain, dan itu pulakah balasan yang Engkau berikan kepada orang berhati mulia dan rela memberikan haknya demi menolong orang lain, walau orang itu berpura-pura kepadanya,” bisik si ibu lagi dalam hatinya.

Dengan berat hati si ibu tukang urut tidak bisa memenuhi permintaan tamunya itu, karena pasien sedang banyak yang menunggu untuk diterapi.

Namun, lagi-lagi, beberapa hari kemudian, si ibu tukang urut kembali bergetar hatinya ketika mendengar bahwa si bapak tersebut telah dipanggil oleh Yang Kuasa.

Peristiwa yang diungkapkan langsung oleh si ibu tukang urut kepada penulis beberapa hari yang lalu itu hendaknya menjadi bahan renungan buat kita semua, kita yang percaya bahwa Allah sangat marah kepada siapa saja yang suka menipu orang, apalagi yang ditipu itu orang kecil, orang-orang yang susah hidupnya.

Hati para penipu dimatikan oleh Allah, sehingga ia tidak bisa lagi menangkap sinyal kemarahan Allah kepadanya, lalu ia akan dimatikan dengan penderitaan yang diakibatkan oleh tipuannya itu.

Allah berkata, “Orang-orang seperti itu menipu Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman, padahal tidak ada yang mereka tipu, melainkan diri mereka sendiri, namun mereka tidak sadar. Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit itu, dan bagi mereka azab yang sangat pedih....”(QS.2:9-10).

Lalu, terpikir oleh kita, bila si bapak di atas hanya menipu satu orang, lalu diberi hukuman seperti itu, maka bagaimana pula hukuman bagi orang-orang yang menipu banyak orang, menipu rakyat, menipu bangsa? Mudah-mudahan calon ”pejabat” yang akan datang di negeri ini bisa mangambil iktibar.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar