Harian Rakyat Sultra Kendari
OLEH:
ALAIDDIN KOTTO
Guru Besar Ilmu
Politik UIN Suska Riau
Di suatu pagi Kamis,
seorang ibu tukang urut memperhatikan seorang calon pasien laki-laki bersama
istrinya turun dari mobil.
Begitu melihat banyak
orang yang sedang antre untuk berobat, si laki-laki itu membuat ”sandiwara”
bersama istrinya. Ia lipat lengan baju dan kaki celananya ke atas, lalu dipapah
oleh istrinya sambil mengerang-erang seperti orang yang sedang sakit parah.
Sambil tetap
mengerang, si laki-laki itu langsung menuju ruang praktik si tukang urut. Ia
memohon dengan menghiba-hiba agar diberi prioritas untuk langsung diterapi,
mendahului orang-orang lain yang sudah antre sejak pagi.
Bahkan, tidak hanya
sekadar telah antre, seorang anak muda yang terkena stroke sedang menunggu
giliran untuk segera diterapi.
Ia duduk pas di depan
pintu masuk bersama istrinya yang sedang hamil tua. Ia telah menunggu
gilirannya sejak pagi, namun ketika gilirannya tiba, si bapak yang dipapah
istrinya itu langsung masuk tanpa minta izin kepada si pemuda.
Begitu pandainya dia
bersandiwara, si pemuda pun ikut kasihan dan merelakan gilirannya diambil oleh
si bapak, sementara si ibu, tukang urut, melihat saja sandiwara itu dengan
perasaan prihatin, pura-pura tidak tahu apa yang dilakukan si bapak itu.
Ketika pihak yang
disebut terakhir telah berada di depannya, ibu tukang urut menanyakan apa
penyakit yang dirasakan oleh si pasien yang sedang membuat tipuan tersebut.
Si bapak itu
mengatakan seluruh badannya sakit dan mohon agar segera diurut atau diterapi.
”Pak!” kata si tukang
urut. “Bapak melihat anak muda yang terkena stroke dan duduk di depan pintu
masuk itu ?” Si bapak itu menjawab, “Ya.
” Bapak tidak kasihan
melihatnya yang sudah antre sejak pagi, lalu bapak langgar saja tanpa minta
izin kepadanya?,” lanjut si ibu yang mengetahui bahwa si bapak itu bersandiwara
dan penyakitnya tidaklah berat seperti yang ia sebut.
”Aku tidak peduli,
dia dia, aku-aku. Kalau aku tunggu orang sebanyak itu, bisa aku menunggu sampai
malam lagi,“ jawabnya ketus.
“Bapak tidak takut
bila Allah pindahkan penyakitnya kepada Bapak karena Bapak telah mengambil
haknya?,” tanya si ibu lagi. “Ah, tidak ada itu, mana mungkin, sakitnya
sakitnya, sakit aku ya sakit aku pula,” jawabnya lagi tanpa rasa bersalah.
“Kalau begitu, ya lah,” kata si ibu sambil mulai mengurut.
Setelah selesai
berurut, si bapak itu pergi, dan tibalah giliran si anak muda yang dilanggarnya
tadi. Istri si anak muda itu berkata, “Tolonglah kami Bu, saya sedang hamil
tua, suami sakit stroke, kami tidak punya penghasilan lain untuk menyongsong
kelahiran anak kami.
”Si ibu bertanya
kepada si anak muda itu, “kenapa kamu mau memberikan giliranmu kepada bapak
tadi?” Si pemuda itu menjawab, “Kasihan melihat dia Bu, kelihatannya sakitnya
parah, sementara saya tidaklah separah dia.” Si ibu bertanya lagi, “Apa kamu
ikhlas memberikan giliranmu tadi kepada bapak itu?” Si anak muda menjawab,
“ikhlas Bu.”
Selesai berurut, si
anak muda itu pergi bersama istrinya setelah mengucapkan terimakasih, sementara
si ibu melihat dengan perasaan yang campur aduk antara kesal kepada si bapak
tadi dan kasihan serta kagum kepada si anak muda yang berhati mulia itu.
Jam pun terus
berlalu, dan sampailah sore menjelang magrib. Sebuah mobil pick up hitam tiba
di halaman rumah si ibu membawa puluhan batang kayu broti.
Karena masih mengobat
pasiennya, sopir mobil itu menemui suami si ibu dan mengatakan bahwa kayu itu
adalah untuk ibu Ani (bukan nama sebenarnya). Karena tidak merasa pernah
memesan kayu, sang suami bertanya kepada istrinya apa ia pernah memesan kayu.
Istrinya menjawab, tidak pernah.
Si suami berkata
kepada si sopir, “Saudara salah alamat, karena di sini ada ibu lain yang senama
dengan istri saya.” Si sopir bersikeras bahwa kayu itu memang untuk ibu ani si
tukang urut.
Mendengar percakapan
suaminya, si ibu tukang urut keluar dari kamar praktiknya dan menemui sopir
itu.
Betapa kagetnya dia,
karena sopir itu adalah anak muda terkena stroke yang diurutnya tadi pagi.
“Ya Allah, bukankah
kamu yang berurut tadi pagi?”, tanya si ibu. “Ya bu. Alhamdulillah saya sudah
sehat dan bisa menyetir mobil. Ini adalah tanda terimakasih kami kepada ibu.
Kami lihat ibu sedang membangun rumah. Mudah-mudahan kayu ini ada gunanya untuk
ibu,” katanya sambil pamit, pulang ke rumahnya.
Beberapa hari
kemudian, tepatnya hari Selasa, ketika sedang melayani pasien, si ibu
kedatangan tamu lagi yang mendadak masuk ke ruangannya.
Setelah diperhatikan,
ternyata yang datang itu adalah istri si bapak yang telah bersandiwara dan
berobat Kamis lalu. Dengan menghiba, sang istri meminta ibu tukang urut
bersedia datang ke rumah sakit karena suaminya sedang koma di ruang icu karena
stroke. Darah si ibu tukang urut berdegup kencang.
“Kok terbukti apa
yang pernah saya ucapkan dulu, “hati ibu itu berkata. “Ya Allah, itukah hukuman
Engkau kepada penipu yang rela mengambil hak orang lain, dan itu pulakah
balasan yang Engkau berikan kepada orang berhati mulia dan rela memberikan
haknya demi menolong orang lain, walau orang itu berpura-pura kepadanya,” bisik
si ibu lagi dalam hatinya.
Dengan berat hati si
ibu tukang urut tidak bisa memenuhi permintaan tamunya itu, karena pasien
sedang banyak yang menunggu untuk diterapi.
Namun, lagi-lagi,
beberapa hari kemudian, si ibu tukang urut kembali bergetar hatinya ketika
mendengar bahwa si bapak tersebut telah dipanggil oleh Yang Kuasa.
Peristiwa yang
diungkapkan langsung oleh si ibu tukang urut kepada penulis beberapa hari yang
lalu itu hendaknya menjadi bahan renungan buat kita semua, kita yang percaya
bahwa Allah sangat marah kepada siapa saja yang suka menipu orang, apalagi yang
ditipu itu orang kecil, orang-orang yang susah hidupnya.
Hati para penipu
dimatikan oleh Allah, sehingga ia tidak bisa lagi menangkap sinyal kemarahan
Allah kepadanya, lalu ia akan dimatikan dengan penderitaan yang diakibatkan
oleh tipuannya itu.
Allah berkata,
“Orang-orang seperti itu menipu Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman,
padahal tidak ada yang mereka tipu, melainkan diri mereka sendiri, namun mereka
tidak sadar. Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit
itu, dan bagi mereka azab yang sangat pedih....”(QS.2:9-10).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar